Friday, February 10, 2006

Refleksi Diri

Menyusul berita maraknya banjir di tanah air, masyarakat mulai resah dan mecari-cari pihak-pihak yang bersalah. Memang tidak semua orang bersikap sama, tapi saya sempat membaca beberapa kritik tentang pemerintah yang memberi sumbangan yang terlalu kecil, ataupun pemerintah yang kurang memperhatikan saluran air.

Sebenarnya, tidak terlalu penting untuk membicarakan siapa yang bersalah atas hal-hal yang sudah terlanjur terjadi. Yang lebih penting adalah bagaimana cara kita menyikapinya, dan cara kita mencegah agar hal itu tidak terulang lagi..

Dalam posting kali ini, saya hanya akan menambahi posting sebelumnya yang juga mengulas tentang banjir.

If we think realistically.., we could do these things to prevent the disaster.. =)

1. Tidak buang sampah sembarangan dan mengingatkan orang2 di sekitar kita untuk tidak buang sampah sembarangan. Mungkin kita sudah berusaha buang sampah pada tempatnya, tapi akan lebih baik lagi kalau kita juga menghimbau orang-orang terdekat kita untuk mengikuti jejak kita. Kita kenal tiga orang dan kita memberitau mereka, lalu ketiganya memberitau tiga orang lain (9), lalu orang-orang itu memberitau tiga orang lain (27), dst, dst.. (ngambil idenya "pay it forward" :p)

2. Memastikan bahwa lahan rumah kita masih tersisa 20% untuk resapan air. Secara formal, lahan rumah seharusnya disisakan 40% untuk daerah resapan. Tapi mengingat kondisi saat ini yang sudah cukup parah (i.e. jalan dan taman2 disemen, lahan depan rumah dijadikan garasi, etc), saya rasa lebih realistis kalau (at least) kita menyisakan 20% sebagai tanah terbuka.

3. Memotori gerakkan taman kampung. Di kota-kota yang tidak sepadat Jakarta, biasanya kita masih punya lahan kosong yang tidak ditanami apa-apa. Daripada menandus dan tidak terawat, teman-teman yang aktif di karang taruna bisa mengusulkan membuat taman di lahan itu. (ingat pelajaran waktu SD dulu kan? tanah yg ditanami memiliki daya resap air yang lebih besar.. ^_^)

Dan yang terakhir (tidak diberi nomer karena kurang realistik :p), usahakan saat beli rumah nanti teman-teman tidak beli di daerah yang bekas resapan air (misal daerah yang tadinya rawa-rawa atau perbukitan). Secara hukum, seharusnya dinas tata kote melarang pembangunan perumahan di daerah bekas resapan air, tapi kadang-kadang, hukum ekonomi lebih berbicara: selama para pembeli mau, pembangunan tetap berjalan.. If only there is no-one who is going to buy those properties, those hills and swamps are maybe still exist.. =)

Oks2, tunggu apa lagi? Mari kita lestarikan bumi!!! (",)v